Ditulis oleh: Kurniawan (Pelatih Senior Badminton Kota Serang)
SERANG – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Kota Serang, sebuah bangunan tua berdiri dalam diam. Dindingnya mungkin mulai kusam, catnya tak lagi secerah dulu, namun gedung itu menyimpan cerita panjang yang tidak bisa dihapus begitu saja oleh waktu.
Gedung olahraga Maulana Yusuf yang berdiri sejak tahun 1973 itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah saksi sejarah perjalanan Banten ketika masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Di tempat itulah ribuan anak-anak Serang belajar mengayunkan raket, bermimpi menjadi juara, hingga akhirnya mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.
Namun kini, usia bangunan olahraga yang telah melewati lebih dari setengah abad itu tampaknya akan segera berakhir.
Pemerintah Kota Serang berencana merobohkan gedung tersebut sebagai bagian dari penataan kawasan pusat kota. Lokasinya akan dijadikan area pengembangan taman alun-alun yang menjadi salah satu program penataan ruang publik di bawah kepemimpinan Wali Kota Serang Budi Rustandi.
Bagi sebagian orang, bangunan itu mungkin hanya tembok tua yang menunggu diruntuhkan. Tetapi bagi para atlet, pelatih, dan masyarakat yang tumbuh bersama sejarahnya, gedung itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang sulit dilupakan.
Jejak Sejarah Sebelum Banten Berdiri Sendiri
Gedung tersebut dibangun pada tahun 1973, jauh sebelum Provinsi Banten lahir sebagai daerah otonom pada tahun 2000.
Saat itu, Banten masih berada di bawah administrasi Jawa Barat. Berdasarkan cerita para pelaku olahraga senior, peresmian gedung dilakukan oleh pejabat dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang kala itu menjadi simbol perhatian terhadap perkembangan olahraga di wilayah Serang.
Selama puluhan tahun, gedung tersebut menjadi pusat pembinaan bulutangkis dan berbagai kegiatan olahraga masyarakat.
Dari lantai lapangan yang mulai menua itulah lahir banyak atlet yang kemudian membawa nama Banten ke tingkat nasional.
Dari Gedung Tua Lahir Atlet Nasional
Nama-nama seperti Melati Daeva Oktavianti menjadi bagian dari sejarah yang tidak terpisahkan dari gedung itu.
Pebulutangkis yang pernah memperkuat Indonesia di berbagai turnamen internasional tersebut pernah merasakan atmosfer latihan di gedung yang kini terancam hilang dari peta olahraga Kota Serang.
Selain Melati, terdapat pula atlet-atlet lain seperti Fitriani, Tryola Nadia, Alan M.A., Rohmat Abdulrohman, hingga Resti Fujiardina yang kini menempati peringkat lima nasional dan digadang-gadang memiliki peluang mengikuti Pelatnas (Pelatihan Nasional).
Bagi mereka, gedung itu bukan sekadar tempat latihan. Di sanalah mereka mengenal disiplin, merasakan kekalahan pertama, merayakan kemenangan pertama, hingga belajar mengejar mimpi yang lebih besar dari sekadar menjadi juara daerah.
Antara Kenangan dan Pembangunan
Pemerintah Kota Serang memang telah menyiapkan pengganti berupa gedung olahraga baru yang akan dibangun di kawasan stadion.
Namun, berdasarkan informasi yang berkembang, fasilitas baru tersebut memiliki kapasitas yang lebih terbatas dibandingkan gedung lama yang akan dirobohkan. Lapangan baru hanya akan memiliki dua tribun penonton dan 3 lapangan, diperkirakan belum mampu mengakomodasi penyelenggaraan kejuaraan bulutangkis berskala nasional seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.
Di sinilah muncul pertanyaan yang mulai bergema di kalangan pecinta olahraga.
Apakah pembangunan ruang publik baru harus mengorbankan bangunan yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi pembinaan atlet?
Ataukah masih ada cara untuk menjaga jejak sejarah olahraga Kota Serang tanpa menghambat pembangunan kota?
Menunggu Hari Terakhir
Untuk saat ini, gedung itu masih berdiri. Tiang-tiang besinya masih menopang atap yang telah menaungi ribuan pertandingan dan jutaan pukulan shuttlecock selama lebih dari lima dekade.
Namun waktu terus berjalan. Ketika alat berat nanti mulai bekerja dan tembok-tembok itu perlahan runtuh, yang hilang bukan hanya sebuah bangunan berusia 53 tahun.
Yang ikut terkubur adalah sebagian cerita tentang mimpi anak-anak Serang, tentang keringat para atlet, tentang tepuk tangan penonton, dan tentang sebuah masa ketika gedung sederhana itu menjadi tempat lahirnya para juara.
Karena sejarah tidak selalu tercatat dalam buku. Terkadang, sejarah hidup di sebuah bangunan tua yang diam-diam menyimpan ribuan kenangan.