SERANG – Duka mendalam menyelimuti keluarga Duroh, warga Kota Serang, setelah bayi yang dikandungnya meninggal dunia usai menjalani operasi sesar di RSUD Kota Serang. Keluarga menduga keterlambatan penanganan medis menjadi salah satu penyebab meninggalnya sang bayi.
Orang tua Duroh, Nisa, menceritakan bahwa putrinya pertama kali memeriksakan kandungan ke Puskesmas Singandaru pada Rabu, 24 Juni 2026, sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu usia kehamilan telah memasuki sembilan bulan.
Menurutnya, berdasarkan riwayat persalinan sebelumnya yang dilakukan melalui operasi sesar, pihak puskesmas memutuskan untuk merujuk Duroh ke RSUD Kota Serang guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Kami mengikuti arahan dari puskesmas dan keesokan harinya langsung datang ke RSUD Kota Serang,” ujar Nisa.
Pada Kamis (25/6/2026) sekitar pukul 08.20 WIB, Duroh bersama suaminya tiba di RSUD Kota Serang. Pihak keluarga mengaku telah meminta agar pasien segera mendapatkan tindakan medis.
Namun, menurut pengakuan keluarga, setelah dilakukan pemeriksaan, petugas menyampaikan bahwa kondisi ibu dan janin masih dalam keadaan baik. Duroh kemudian diperbolehkan pulang dan diminta kembali ke rumah sakit keesokan harinya dengan alasan ruang perawatan penuh.
Sesampainya di rumah, sekitar pukul 15.30 WIB, Duroh mengalami flek disertai dugaan rembesan air ketuban. Keluarga pun segera membawanya kembali ke RSUD Kota Serang sekitar pukul 16.10 WIB.
Selama menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), keluarga mengaku Duroh hanya mendapatkan observasi hingga Jumat dini hari.
“Suami Duroh sempat beberapa kali menanyakan kondisi istri dan bayinya. Perawat menyampaikan bahwa kondisi ibu maupun bayi masih baik,” tutur Nisa.
Namun, suasana berubah pada (Jumat 26 juni) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Menurut keluarga, dokter menyampaikan bahwa detak jantung janin mulai melemah sehingga operasi sesar harus segera dilakukan.
“Saya bingung karena sebelumnya kami diberi tahu kondisi bayi baik-baik saja. Tiba-tiba pagi harinya dokter mengatakan detak jantung bayi melemah,” ujar suami Duroh.
Operasi sesar akhirnya dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB. Namun, keluarga menerima kabar duka karena bayi perempuan yang telah dinantikan dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa tersebut membuat keluarga mempertanyakan pelayanan yang diberikan RSUD Kota Serang. Mereka menduga terjadi keterlambatan penanganan terhadap kondisi pasien, terutama setelah muncul tanda-tanda rembesan air ketuban dan flek sehari sebelumnya.
“Kami ingin ada kejelasan. Jangan sampai ada keluarga lain yang mengalami kejadian seperti ini. Kalau memang ada kelalaian, harus diusut secara terbuka,” kata Nisa.
Ia menambahkan, kondisi Duroh saat ini masih mengalami trauma dan masih menjalani perawatan medis di RSUD Kota Serang.
Pihak keluarga juga menyatakan tengah mempertimbangkan langkah hukum apabila kasus tersebut tidak mendapatkan penjelasan maupun penyelesaian yang memadai.
“Kami hanya mencari keadilan. Ini menyangkut nyawa seorang bayi yang seharusnya bisa mendapatkan penanganan lebih cepat,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Diksiber Banten masih berupaya menghubungi manajemen RSUD Kota Serang untuk memperoleh klarifikasi terkait kronologi penanganan pasien serta menunggu penjelasan resmi dari pihak rumah sakit guna menjaga keberimbangan pemberitaan.