Jakarta— Harga pakan ternak terus melambung tinggi hingga menembus Rp8.500 per kilogram, membuat banyak peternak domba dan kambing semakin terjepit. Sementara di saat yang sama, jutaan ton sampah makanan setiap harinya hanya dibuang dan menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir.

Di tengah dua masalah yang berjalan beriringan ini, muncul satu gagasan yang bisa menyelesaikan keduanya sekaligus: mengubah sampah makanan menjadi sumber pakan ternak berkualitas melalui konsep Bank Pakan Ternak berbasis ekonomi sirkular.

Gagasan ini dikemukakan oleh Agus Santoso, mantan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM yang juga seorang peternak domba dan kambing, dalam sebuah tulisan yang mengangkat potensi besar yang selama ini terabaikan.

Biaya Pakan Mencekik, Sementara Sumber Daya Terbuang Sia-Sia

Saat ini, untuk menggemukkan satu ekor domba saja dibutuhkan sekitar 1,5 kilogram konsentrat setiap harinya. Artinya, biaya pakan per ekor sudah mencapai Rp12.750 per hari. Di saat harga jual hewan ternak cenderung tetap, titik impas usaha peternak bisa mundur hingga tiga bulan.

Ironisnya, di tempat yang sama, truk-truk sampah terus mengantre di TPA. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mencatat, potensi sampah makanan di Indonesia mencapai 23,5 juta ton per tahun. Sebanyak 41,4 persen sampah yang masuk ke TPA berupa sampah organik sisa makanan.

“Kita sedang hidup dalam dua krisis yang bertabrakan: kenaikan harga pakan ternak di satu sisi dan krisis sampah di sisi lain. Pertanyaannya sederhana: kenapa kita tidak mempertemukan keduanya?” ujar Agus.

Tiga Sumber “Harta Karun” yang Selama Ini Dibuang

Agus menjelaskan ada tiga kelompok bahan baku yang selama ini dianggap sampah, padahal masih memiliki nilai gizi tinggi dan bisa diolah menjadi pakan ternak:

Pertama, produk makanan industri yang mendekati masa kedaluwarsa.
Biskuit, sereal, mi instan, susu bubuk, hingga minuman sachet yang wajib ditarik dari pasar demi keamanan pangan manusia, sebenarnya kandungan gizinya masih utuh. Setiap pabrik makanan besar bisa menghasilkan 5–20 ton produk per bulan. Selama ini langsung dimusnahkan — padahal masih sangat layak menjadi sumber energi bagi ternak.

Kedua, sisa makanan perkotaan.
Nasi, sayur, lauk dari restoran, hotel, pasar, hingga rumah tangga. Dengan teknologi pengolahan menggunakan magot lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF), dalam waktu hanya 14 hari, satu ton sampah organik dapat diubah menjadi tepung magot dengan kandungan protein mencapai 40–45 persen — setara dengan tepung ikan yang selama ini kita impor dengan harga mahal.

Ketiga, limbah padat industri pangan.
Ampas tahu, tempe, singkong, bekatul, dedak — bahan yang sudah lama dikenal peternak namun sering terbuang karena cepat rusak. Dengan proses fermentasi sederhana, bahan-bahan ini bisa awet hingga 6–12 bulan sekaligus meningkatkan nilai gizi dan daya cerna bagi ternak.

Ketiga bahan ini jika diramu dalam satu formula pakan lengkap, tidak hanya memenuhi kebutuhan energi, protein, serat, serta vitamin ternak — tetapi bisa didapatkan dengan harga separuh lebih murah dibanding pakan pabrikan di pasaran.

Dikelola Koperasi, Dijalankan Seperti Bank

Kendala utama yang selama ini menghambat peternak kecil memanfaatkan peluang ini adalah skala usaha. Peternak dengan 10 ekor domba tidak mungkin menjemput trukan sampah makanan ke pabrik sendiri — biaya transportasinya tidak sebanding.

Di sinilah peran Bank Pakan Ternak yang dikelola Koperasi. Konsepnya sederhana namun kuat:

  • Peternak “menabung” keanggotaan, tenaga, atau sampah organik dari rumahnya
  • Koperasi yang mengambil langsung dalam jumlah besar dari sumbernya
  • Diproses menjadi pakan lengkap, lalu disalurkan kembali kepada anggota dengan harga biaya produksi

Hasilnya sangat nyata: biaya pakan bisa ditekan hingga kisaran Rp1.800–Rp3.500 per kilogram. Untuk kelompok peternak dengan 100 ekor domba, penghematan yang didapat bisa mencapai Rp20 juta per bulan — uang yang bisa diputar kembali untuk memperluas usaha.

Lebih Dari Sekadar Solusi Ekonomi

Konsep ini bukan sekadar menekan biaya produksi. Dampaknya menyentuh banyak aspek sekaligus:

  • 🌱 Lingkungan: Mengurangi tumpukan sampah organik di TPA sekaligus menekan emisi gas metan
  • 💰 Keadilan Ekonomi: Peternak kecil tidak lagi tergantung pada harga pakan yang terus naik
  • 🐑 Ketahanan Pangan: Biaya produksi turun berarti populasi ternak bisa ditingkatkan menuju swasembada daging
  • 🤝 Kemanusiaan: BAZNAS atau program tanggung jawab sosial perusahaan bisa menyalurkan bantuan berupa pakan untuk peternak kurang mampu

Perlu Dukungan Regulasi dan Permodalan

Agar tidak hanya berhenti di atas kertas, ada tiga hal yang perlu didukung:

1. Regulasi: Pemerintah daerah perlu memfasilitasi kerja sama antara koperasi peternak dengan penyedia limbah makanan, serta mempermudah aturan pemanfaatan sampah organik untuk pakan ternak

2. Pendampingan: Perguruan tinggi dan ahli peternakan perlu turun membantu meramu formula pakan yang tepat dan teruji kualitasnya

3. Permodalan: Bantuan peralatan pengolahan pakan untuk koperasi percontohan agar bisa berjalan mandiri

“Peternak yang hebat bukan yang paling mampu membeli pakan mahal. Tapi yang paling kreatif mengubah yang tidak ada harganya menjadi pakan yang berkualitas,” tutup Agus.