Jakarta — Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F. Silaen, menilai fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang bukan semata-mata akibat kondisi iklim kering. El Niño memang membuat lahan lebih mudah terbakar, namun api tetap membutuhkan sumber pemantiknya. Jika peristiwa yang sama terus terjadi tanpa perbaikan berarti, itu menunjukkan kegagalan dalam belajar dan memperbaiki tata kelola.

“El Niño membuat lahan lebih mudah terbakar. Namun, api tetap membutuhkan sumber pemantiknya. Faktor iklim menjelaskan mengapa api lebih mudah berkembang, tetapi tidak selalu menjelaskan dari mana api berasal dan mengapa api bisa bertahan begitu lama.”

Samuel menyampaikan pandangan tersebut kepada awak media, Sabtu (5/9/2026).

🔍 Hotspot Bukan Bukti Otomatis Tindak Pidana

Data titik panas atau hotspot tetap penting sebagai alat deteksi dini. Namun, Samuel memperingatkan agar data tersebut tidak langsung dijadikan bukti kesalahan. Setiap titik kebakaran justru harus menjadi pintu masuk pemeriksaan menyeluruh:

  • Di mana titik awal api dan apa penyebabnya?
    ​
  • Bagaimana kondisi lahan dan aktivitas manusia di sekitarnya?
    ​
  • Bagaimana status penguasaan dan penggunaan kawasan?
    ​
  • Apakah ada unsur kelalaian atau pembiaran?

“Pertanyaan yang lebih penting adalah di mana titik awal api dan apa penyebabnya.”

📍 Kebakaran di Kawasan Konsesi Wajib Diperiksa, Tetap Asas Praduga Tak Bersalah

Kebakaran yang terjadi di dalam wilayah konsesi perusahaan tidak otomatis berarti pemegang konsesi yang membakar. Namun lokasi tersebut tetap harus diperiksa — bukan untuk menyalahkan di awal, melainkan menemukan fakta:

  • Bagaimana sistem pencegahan kebakaran dijalankan?
    ​
  • Bagaimana patroli dan kesiapan sarana pemadaman?
    ​
  • Bagaimana respons pengelola saat api pertama kali diketahui?

“Pemeriksaan bukan vonis. Justru pemeriksaan diperlukan agar tuduhan tidak berubah menjadi pengadilan di media.”

Jika ditemukan kelalaian atau pelanggaran, proses hukum tetap berjalan. Sebaliknya, jika tidak terbukti, hasil pemeriksaan harus diumumkan secara terbuka agar tidak ada tuduhan tanpa dasar.

🌿 Lahan Gambut: Bara di Bawah Permukaan Sering Terlupakan

Samuel menyoroti kompleksitas penanganan kebakaran di lahan gambut. Api tidak selalu terlihat di permukaan — bara bisa menyimpan diri di bawah tanah dan kembali berkobar saat cuaca masih kering.

“Apakah bara di bawah permukaan sudah diperiksa? Apakah titik yang sama kembali terbakar?”

Padamnya kobaran di atas permukaan belum tentu berarti kebakaran selesai. Evaluasi penanganan wajib memastikan sumber api di bawah tanah benar-benar dipadamkan.

⚠️ Jangan Hanya Memadamkan, Cegah Sebelum Api Muncul

Strategi karhutla saat ini dinilai terlalu berfokus pada pemadaman setelah api membesar. Padahal:

“Pemadaman adalah tindakan setelah api muncul. Sementara pencegahan adalah pekerjaan sebelum api menjadi bencana.”

Samuel mendorong penguatan langkah pencegahan: patroli rutin, deteksi dini titik panas, pemantauan lahan gambut, kesiapan sumber air, pengawasan kawasan konsesi, penegakan hukum berbasis bukti, serta keterlibatan masyarakat luas.

Jika strategi baru bergerak saat api sudah membesar, pemerintah akan selalu berada satu langkah di belakang kebakaran.

🤝 Tanggung Jawab: Satu Rantai yang Saling Berkaitan

Karhutla bukan beban satu pihak saja — ini rantai tanggung jawab:

  • 📌 Pemerintah Pusat — kebijakan, koordinasi, pengendalian nasional
    ​
  • 📌 Pemerintah Daerah — pengawasan langsung di lapangan dan pendekatan masyarakat
    ​
  • 📌 Aparat Penegak Hukum — periksa berdasarkan bukti, bukan rekayasa atau tekanan
    ​
  • 📌 Pengelola/Konsesi — cegah dan kendalikan sesuai aturan
    ​
  • 📌 Masyarakat — hindari pembakaran sembarangan, laporkan sejak dini

“Jika satu mata rantai lemah, kebakaran dapat berkembang menjadi bencana.”

📅 September: Jangan Menunggu Hujan Turun

Memasuki September, Samuel mengingatkan agar pemerintah tidak sekadar menunggu hujan untuk mengakhiri karhutla. Kondisi kering masih berpotensi. Patroli, deteksi dini, pemantauan gambut, kesiapan air, dan pengawasan kawasan harus berjalan serentak.

⚖️ Inti: Cari Penyebab, Bukan Kambing Hitam

Di tengah tekanan publik yang ingin tahu siapa yang bertanggung jawab, Samuel menegaskan prinsip paling mendasar:

“Jangan mencari kambing hitam. Tetapi jangan pula membiarkan dugaan pelanggaran berlalu tanpa pemeriksaan.”

Investigasi harus menjawab fakta secara lengkap: siapa menguasai lahan, kapan api pertama kali terlihat, dari mana bergerak, apa aktivitas sebelumnya, apakah sistem pencegahan berfungsi, dan apakah ada kelalaian. Hukum harus bekerja berdasarkan bukti, bukan opini atau tekanan.

🎯 Ukuran Keberhasilan yang Sebenarnya

Keberhasilan penanganan karhutla bukan diukur dari seberapa banyak pesawat pengebom air beroperasi atau seberapa cepat titik api hilang di layar satelit.

“Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika api tidak kembali muncul di tempat yang sama, penyebab diketahui, sistem diperbaiki, yang lalai dipertanggungjawabkan, dan masyarakat tidak terus menjadi korban setiap musim kemarau.”