LEBAK – Rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang diselenggarakan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) berlanjut dengan agenda napak tilas sejarah ke Museum Multatuli, Kabupaten Lebak, Banten. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi bagi insan pers terhadap nilai kemanusiaan dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Ratusan insan pers dari berbagai daerah hadir dalam kunjungan tersebut, dipimpin Sekretaris Jenderal SMSI Pusat Makali Kumar, didampingi Dewan Penasehat SMSI Pusat Moh. Nasir serta Ketua SMSI Provinsi Banten Lesman Bangun. Rombongan disambut Pemerintah Kabupaten Lebak melalui perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika, Sehabudin.
Dalam sambutannya, Makali Kumar menyampaikan bahwa kunjungan ke Museum Multatuli menjadi bagian dari agenda literasi sejarah dalam rangkaian HPN 2026 untuk memperkaya wawasan insan pers terhadap nilai kemanusiaan, keadilan sosial, serta keberpihakan pada kebenaran.
“Lebak memiliki jejak sejarah perjuangan melalui pena Multatuli. Ia melawan monopoli dan penindasan melalui karya tulisnya,” ujar Makali.
Ia menjelaskan, Multatuli merupakan nama pena Eduard Douwes Dekker, pejabat Belanda yang pernah bertugas sebagai Asisten Residen Lebak pada tahun 1856. Dekker memilih mengundurkan diri setelah menyaksikan langsung praktik penindasan terhadap rakyat pribumi, pengalaman yang kemudian dituangkan dalam novel legendaris Max Havelaar pada 1860.
Menurut Makali, meskipun bukan warga Indonesia, Multatuli berani mengkritik ketidakadilan kolonial melalui tulisan, sebuah semangat yang dinilai relevan dengan peran pers saat ini.
“Di momentum HPN ini, semangat keberanian menyuarakan kebenaran perlu terus kita kobarkan demi pers yang sehat dan bangsa yang kuat,” katanya.
Sebelum memasuki area museum, peserta terlebih dahulu menerima pemaparan mengenai sejarah serta perjalanan SMSI sebagai organisasi media siber yang berkembang pesat di Indonesia.
Di dalam museum, peserta menelusuri ruang pamer yang memuat arsip sejarah kolonial, ilustrasi, hingga diorama sosial-politik masa penjajahan. Kunjungan dipandu langsung Kepala Subbagian Tata Usaha Museum Multatuli, Lia Havila, yang menjelaskan perjalanan hidup serta gagasan kritis Multatuli.
Menurut Lia, karya Max Havelaar menjadi salah satu pemicu terbongkarnya praktik ketidakadilan sistem kolonial terhadap rakyat pribumi.
“Nilai perjuangan Multatuli sangat relevan dengan semangat pers saat ini, yakni membela kemanusiaan dan mengkritisi ketidakadilan,” jelasnya.
Para peserta tampak antusias mengikuti penjelasan sembari merefleksikan kembali peran pers sebagai kontrol sosial di tengah masyarakat.
Kunjungan ke Museum Multatuli menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian HPN 2026 SMSI. Selain memperkaya perspektif sejarah, kegiatan ini diharapkan semakin meneguhkan komitmen insan pers untuk menjalankan tugas jurnalistik secara kritis, berimbang, dan bertanggung jawab demi kepentingan publik. (*)
