Ditulis Oleh: Ahmad Muhibbin

Dunia kekuasaan selalu berisik. Riuh oleh tepuk tangan, tetapi lebih riuh lagi oleh bisik-bisik yang tak pernah usai. Di sana, setiap langkah seorang pemimpin selalu menjadi perhatian. Setiap keputusan dipuji oleh sebagian orang, namun pada saat yang sama dicurigai oleh sebagian lainnya.

Memimpin memang berarti memikul harapan. Sebab setiap pemimpin lahir dari mimpi banyak orang yang menginginkan perubahan. Namun, di balik harapan itu, selalu ada mata yang memandang dengan kebencian—menghakimi sebelum memahami, menolak sebelum mendengar.

Ironisnya, telinga yang seharusnya menjadi pintu menuju kebijaksanaan sering kali hanya digunakan untuk mendengar gosip. Kritik yang membangun diabaikan, masukan yang tulus disisihkan, sementara kabar yang belum tentu benar justru dipercaya tanpa diuji.

Di ruang digital, keadaan menjadi semakin gaduh. Jari-jari berlomba mengetik, bukan untuk menyampaikan gagasan, melainkan menyebarkan fitnah, merangkai prasangka, dan menanam kebencian. Kata-kata kehilangan nurani, fakta dikalahkan oleh asumsi, dan suara yang paling keras sering kali dianggap sebagai kebenaran.

Lalu, saya bertanya dalam hati, apa yang sebenarnya salah dengan demokrasi kita?

Ataukah yang keliru bukan sistem demokrasinya, melainkan cara kita menjaganya?

Demokrasi tidak hanya memberi hak untuk berbicara, tetapi juga mengajarkan kewajiban untuk mendengar. Demokrasi bukan sekadar kebebasan berpendapat, melainkan keberanian menghormati perbedaan. Dan demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi juga memilih kejujuran di atas kebencian, akal sehat di atas hasutan, serta persatuan di atas kemenangan sesaat.

Seorang pemimpin yang bekerja dengan hati mungkin tetap akan dibenci. Sebab tidak semua orang menilai dari niat, apalagi dari proses. Ada yang hanya melihat dari potongan cerita, ada pula yang lebih percaya pada prasangka daripada kenyataan.

Namun sejarah selalu mengajarkan, bahwa pengabdian tidak diukur dari seberapa banyak tepuk tangan yang diterima, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.

Barangkali, ketika telinga kembali mau mendengar dengan bijaksana, mata kembali melihat dengan adil, dan jari-jari kembali menulis dengan hati nurani, dunia kekuasaan tak lagi sekadar menjadi ruang yang penuh kebisingan.

Ia akan kembali menjadi tempat pengabdian, tempat harapan tumbuh, dan tempat demokrasi menemukan kembali martabatnya.