Jombang — Ada satu nama yang kembali mencuat menjelang penentuan Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031, namun dengan cara yang tak seperti tokoh lainnya. Nama itu bukan muncul karena ia mengejar kursi, melainkan justru karena ia dua kali menolaknya. Ia adalah KH Ahmad Mustofa Bisri — Gus Mus.
🪑 Dua Kali Kursi Ditawarkan, Dua Kali Ditolak
Sejarah mencatat bagaimana sikap Gus Mus justru menjadikannya sosok yang terus dicari:
Muktamar ke-33, Jombang 2015
Ketika AHWA hendak memilih Rais Aam, Gus Mus lebih dulu menyerahkan surat menyatakan tidak bersedia.
Namun para kiai tetap memilihnya. Bahkan saat terpilih, ia tetap menolak — dengan kalimat yang kini menjadi legenda:
“Siapa mundur? Aku tak pernah maju.”
Muktamar ke-34, Lampung 2021
Gus Mus justru memperoleh 494 suara, menempati urutan kedua perolehan suara AHWA.
Namun sekali lagi, ia tidak mengambil posisi Rais Aam. Jabatan akhirnya diserahkan kepada KH Miftachul Akhyar melalui musyawarah.
Dua peristiwa ini membentuk satu paradoks khas NU: semakin ia menjauhi kursi, semakin tinggi legitimasi moralnya di mata para ulama.
🔄 Muktamar Tambakberas: Peta Berubah, Modal Moral Tetap
Di Muktamar ke-35 yang berlangsung 29–30 Agustus 2026, terjadi perubahan mekanisme besar: pemilihan Ketua Umum PBNU pun kini diserahkan ke AHWA, setelah 401 dari 552 suara menyetujui perubahan dari sistem pemilihan langsung ke mekanisme AHWA.
Semakin besar peran AHWA, semakin pula bobot yang diberikan pada otoritas keulamaan, integritas, dan penerimaan moral — bukan sekadar kekuatan jaringan atau dukungan cabang. Di sinilah letak kekuatan Gus Mus yang tak bisa diukur dengan hitungan politik biasa.
- ✅ Rekam jejak tidak pernah mengejar jabatan
- ✅ Diakui secara luas oleh kalangan ulama di dalam maupun luar AHWA
- ✅ Menjaga jarak dari ambisi kekuasaan — justru menjadi nilai yang dicari AHWA
- ✅ KH Ma’ruf Amin sendiri telah mengingatkan: AHWA bukan tempat pesanan atau transaksi
❓ Belum Tentu, Tetap Menjadi Referensi
Namun satu hal penting: Gus Mus sendiri belum menyatakan bersedia. Menyebutnya sebagai calon pasti adalah berlebihan. Yang jelas, ia adalah figur yang secara moral dan historis sangat layak diperhitungkan dalam ruang musyawarah AHWA.
“Semakin seseorang mengejar jabatan, semakin sulit ia mendapat legitimasi dari para kiai. Sebaliknya, yang menjauhi justru dilihat bersih dari ambisi.”
📌 Logika Khas Kepemimpinan NU
Di usia 82 tahun, Gus Mus bukan sekadar nama dalam daftar kandidat. Ia adalah cermin dari tradisi NU yang unik:
Kursi tertinggi bisa saja jatuh kepada orang yang sejak awal tidak pernah meminta untuk duduk di atasnya.
Apakah sejarah akan berulang? Belum tentu. Namun satu hal tak terbantahkan: dua kali menolak kursi yang terbuka untuknya — itulah keunggulan yang sulit ditiru siapa pun.
Di ruang musyawarah AHWA Tambakberas, nama bisa muncul dan gugur. Tapi Gus Mus membawa modal yang berbeda: bukan karena ia ingin, tapi karena ia tidak ingin — dan justru karena itulah ia dipercaya.
🤲 Penutup
Ikhtiar di bumi Tambakberas bukan sekadar memilih nama, melainkan merawat amanah. Setelah keputusan ditetapkan, yang bukan lagi soal siapa menang atau kalah — melainkan persatuan, marwah NU, kemaslahatan umat, dan keberkahan bangsa.
“Dalam khidmah, yang dicari bukanlah ketinggian tempat, melainkan keridhaan Allah. Dalam kepemimpinan, yang diwariskan bukanlah kekuasaan, melainkan keteladanan.”
Wallāhul Muwaffiq ilā Aqwamit Tharīq.
Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.