LEBAK- Pelaksanaan Program P3-TGAI di Kampung Sumandang RT 02 RW 06, Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, menjadi sorotan tajam warga.

Proyek irigasi yang bersumber dari APBN, senilai ratusan juta itu diduga dikerjakan asal jadi. Bahkan RT, RW dan masyarakat setempat mengaku kecewa dengan hasil pekerjaan tersebut.

Berdasarkan informasi warga, dari panjang pekerjaan yang seharusnya tercantum 300 meter, malah terpangkas menjadi 250 meter.

Pemangkasan 50 meter itu, dapat berdampak pada aliran Air irigasi yang tidak sampai ke seluruh lahan petani.

Namun, Kepala Desa Sindangsari menyebut pekerjaan tersebut bukan dipangkas, melainkan volume nya diganti dengan penambahan tinggi pondasi.

Exif_JPEG_420

“Kalau mau full 300 meter, warga harus berswadaya,” ujar Kades kepada salah satu warga yang ikut bekerja di lokasi.

Selain terkait volume, kualitas fisik juga menjadi sorotan. Seperti hal nya, pondasi irigasi yang terindikasi tidak digali sesuai kedalaman yang ditetapkan dalam juknis P3-TGAI.

Kondisi pondasi itu di khawatirkan cepat roboh dan jebol, tidak dapat bertahan lama pemanfaatannya.

Kekecewaan tidak hanya dari warga, petani setempat menyayangkan proyek tersebut tidak melibatkan pengawasan dari kalangan mereka.

“Kami kecewa. Ini program untuk kami, tapi pengerjaannya asal-asalan. Seharusnya transparan dari awal,” ujar Petani.

Upaya konfirmasi juga dilakukan ke pelaksana. Ridho selaku pelaksana lapangan belum bisa ditemui. Saat didatangi ke rumahnya di Pajagan, pihak keluarga hanya menyampaikan Ridho sedang ada keperluan.

Royan selaku Ketua P3A juga diupayakan dikonfirmasi via chat dan telepon, namun belum ada jawaban hingga berita ini diturunkan.

Walaupun kecewa tidak mendapat jawaban, awak media tetap berupaya agar pemberitaan berimbang.

Warga dan aktivis mendesak BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian dan Tim Teknis segera turun ukur ulang dan mengevaluasi kualitas pekerjaan.

“Ini program untuk petani. Jangan sampai uang negara habis tapi hasilnya zonk. Kalau volume dipangkas dan pondasi asal jadi, siapa yang rugi? Ya petani,” tegas warga.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak P3A pelaksana belum memberikan klarifikasi resmi. Kami membuka ruang hak jawab seluas-luasnya.