JAKARTA — Jarak ribuan kilometer tak lagi menjadi penghalang pelayanan publik. Inilah yang dibuktikan I Gusti Ngurah Agung Yuliarta Endrawan saat mengembangkan sistem Medlin Command Center di Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) — menghubungkan Jakarta hingga Astana, Kazakhstan, tanpa harus bertemu tatap muka.

Guru Besar Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL UGM sekaligus mantan Ketua KASN, Prof. Dr. Agus Pramusinto, menilai inovasi ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal semangat menyelesaikan persoalan.

“Gagasan Agung waktu itu sederhana: bagaimana orang yang butuh pelayanan tidak dipersulit oleh prosedur dan jarak. Teknologi digunakan untuk mempercepat akses dan membantu penyelesaian persoalan,” ujar Agus di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Pelayanan yang Menembus Batas Negara

Salah satu bukti nyata keunggulan Medlin terlihat saat menangani persoalan di Perwakilan Republik Indonesia di Astana, Kazakhstan. Tanpa perjalanan jauh, komunikasi, pendampingan, hingga penanganan dilakukan langsung dari Jakarta.

Duta Besar RI di Astana pun mencatatnya dalam sebuah video testimoni yang dipublikasikan Januari 2023. Dubes menilai KASN bergerak cepat, penanganan profesional, dan pelayanan dapat diakses hingga 24 jam — bahkan merekomendasikan agar sistem ini terus dipertahankan.

Bukan Sekadar Terima Laporan, Tapi Selesaikan

Poin penting yang ditekankan Agus: inovasi pelayanan publik tidak berhenti di pembuatan aplikasi. Ujian utamanya adalah apakah persoalan benar-benar terselesaikan.

Agung membuktikannya saat menangani permohonan perlindungan ASN yang sudah tertunda enam bulan di lembaga lain. Di KASN, seluruh proses klarifikasi hingga rekomendasi tuntas dalam waktu sekitar dua minggu.

“Bagi orang yang mengadu, yang dibutuhkan bukan sekadar tahu laporannya diterima. Ia butuh kepastian persoalannya diperiksa, diklarifikasi, dan ditindaklanjuti,” tegas Agus.

Digitalisasi pun tak boleh sekadar memindahkan kertas ke layar. Teknologi harus memangkas hambatan, bukan menumpuknya. Bahkan saat KASN belum memiliki gedung sendiri, Agung terus bergerak mencari solusi hingga kebutuhan fasilitas terpenuhi — tidak berhenti sekadar membahas masalahnya.

Integritas Tak Boleh Ditinggal

Di tengah kecepatan dan inovasi, Agus menegaskan satu hal yang tak bisa ditawar: integritas. Agung selalu meminta tamu yang datang berkonsultasi agar tidak membawa apa pun — termasuk oleh-oleh. Baginya, melayani adalah kewajiban, bukan layak menerima imbalan.

Kini, dengan penetapannya sebagai calon cadangan anggota Ombudsman RI, pengalaman Agung menjadi cermin bagi lembaga pengawasan pelayanan publik. Menurut Agus, Ombudsman tak hanya perlu menerima laporan — tetapi memastikan masyarakat tahu perkembangannya dan benar-benar memperoleh penyelesaian.

Dari Jakarta hingga Astana, pesannya tetap sama: teknologi mempermudah, tetapi hati pelayanan yang jujur, cepat, dan berintegritaslah yang sesungguhnya dirasakan masyarakat.