SERANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten memastikan aktivitas wisata di kawasan Pantai Anyer dan Carita tetap berlangsung normal meski Gunung Anak Krakatau (GAK) masih berstatus Level III (Siaga). Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi bencana dengan mengacu pada informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, mengatakan fokus pemerintah tidak hanya memantau aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, tetapi juga mengantisipasi potensi dampak yang dapat ditimbulkan, termasuk kemungkinan tsunami.
“Mitigasi sudah kami lakukan sejak awal tahun, bahkan diperkuat setelah status Gunung Anak Krakatau naik menjadi Level III atau Siaga,” kata Lutfi, Kamis (9/7/2026).
Menurut Lutfi, keputusan evakuasi masyarakat akan didasarkan pada analisis dan informasi resmi terkait potensi tsunami. Erupsi Gunung Anak Krakatau, kata dia, tidak serta-merta mengharuskan masyarakat mengungsi apabila tidak terdapat indikasi ancaman tsunami.
Ia menjelaskan, apabila terjadi erupsi yang berpotensi memicu tsunami, masyarakat di wilayah pesisir diperkirakan memiliki waktu sekitar 40 menit untuk melakukan evakuasi. Karena itu, BPBD terus memperkuat koordinasi dengan PVMBG, BMKG, TNI, Polri, pemerintah kabupaten/kota, serta meningkatkan kesiapsiagaan personel Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) agar proses evakuasi dapat dilakukan dengan cepat bila diperlukan.
Lutfi juga mengimbau masyarakat dan wisatawan agar tidak panik. Menurutnya, hingga saat ini aktivitas wisata di kawasan Anyer dan Carita masih berlangsung normal dan tetap aman dikunjungi selama mematuhi arahan petugas.
Sementara itu, Pengamat Gunung Api PVMBG Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Anggi Nuryo Saputro, mengatakan rekomendasi PVMBG belum berubah. Masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pendaki tetap dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
“Kondisi kegempaan masih fluktuatif dan rekomendasinya tetap tiga kilometer dari kawah aktif. Informasi resmi dapat diakses melalui aplikasi MAGMA Indonesia,” ujarnya.
Anggi menambahkan, berdasarkan kajian para ahli, kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan saat menjelang tsunami Selat Sunda pada 2018. Saat itu tinggi gunung mencapai sekitar 337 meter di atas permukaan laut sebelum terjadi longsoran, sedangkan hasil pemantauan terbaru menunjukkan ketinggian gunung sekitar 158 meter di atas permukaan laut.
“Potensinya berbeda dengan tahun 2018 karena kondisi morfologi gunung juga sudah berubah. Meski demikian, masyarakat tetap harus mematuhi seluruh rekomendasi PVMBG,” katanya.
Pantauan di sejumlah objek wisata menunjukkan kunjungan wisatawan tetap tinggi. Di Pantai Bandulu, Abdul Malik (42), wisatawan asal Bekasi, mengaku tetap berlibur bersama rombongannya karena perjalanan telah direncanakan jauh hari.
“Perjalanannya menyenangkan dan kondisi pantainya juga aman. Sampai sekarang kami tidak melihat ada hal yang mengkhawatirkan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Marlian (39), warga Bogor, yang datang bersama komunitas senam. Meski mengetahui status Gunung Anak Krakatau berada di Level III, rombongannya tetap melanjutkan agenda wisata.
“Kami tetap berangkat karena informasinya aman. Bahkan tadi sempat naik perahu dan semuanya berjalan lancar,” katanya.
Sementara itu, Jonelisa (18), pelajar asal Nabire, Papua Tengah, yang kini menempuh pendidikan di Tangerang, mengaku mengetahui informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dari media sosial. Namun setelah melihat situasi di lapangan dan ramainya wisatawan, ia memutuskan tetap menikmati liburan di Pantai Carita.
Ramainya kunjungan juga diakui pelaku usaha wisata. Petugas penjualan tiket sekaligus penyewaan saung di Pantai Bandulu, Maria Ulfah, mengatakan peningkatan status Gunung Anak Krakatau tidak memengaruhi jumlah wisatawan yang datang.
“Pengunjung tetap ramai. Pada hari biasa saja bisa masuk sekitar 10 bus rombongan dan belasan kendaraan pribadi. Saat akhir pekan jumlahnya bisa mencapai 30 hingga 50 bus,” ujarnya.