KALIMANTAN — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kalimantan mendorong PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) memperkuat langkah pencegahan sekaligus penanganan secara terpadu di sekitar wilayah operasinya. Keselamatan pekerja, masyarakat, fasilitas produksi, dan kelestarian lingkungan menjadi fokus utama dalam setiap tindakan.

Gerak Cepat di Lapangan, Api Dikendalikan di Beberapa Titik

PHI bersama anak perusahaan dan afiliasinya segera mengerahkan personel pemadam, peralatan khusus, serta tim tanggap darurat. Langkah konkret dilakukan di beberapa titik sekaligus:

  • 📍 Samboja, Kutai Kartanegara — Kamis (20/8/2026): Tim Emergency Intervention Team (EIT) South Processing Station PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berkolaborasi dengan Damkar Samboja memadamkan titik api sekitar 100 meter di sebelah barat fasilitas Lapangan Senipah, Peciko, dan South Mahakam.
  • 📍 Muara Badak, Kutai Kartanegara — Jumat (21/8/2026): PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) bersama relawan dan Dinas Kehutanan menangani kebakaran di area sekitar Nilam Field. Digunakan fire truck advancer dan vacuum truck berkapasitas 15.000–24.000 liter air untuk membendung rambatan api.
  • 📍 Bunyu, Kalimantan Utara: PT Pertamina EP (PEP) Bunyu bersama Tim Damkar Kalimantan Utara memadamkan kebakaran di Jalan Lingkar Bunyu, sekitar 14,1 km dari area operasi.

Direktur Utama PHI, Muharram Jaya Panguriseng, menegaskan bahwa penanganan karhutla bukan sekadar soal menjaga fasilitas perusahaan.

“Upaya ini semata-mata untuk memastikan perlindungan bagi pekerja, masyarakat, fasilitas operasi, dan lingkungan di sekitar kita,” ujar Muharram.

Pencegahan: Edukasi & Pelibatan Masyarakat Kunci Keberhasilan

PHI tidak hanya bergerak saat api sudah menyala. Langkah pencegahan diperkuat dengan melibatkan warga secara langsung:

  • 📍 Lawe-Lawe, Kutai Kartanegara — 19–23 Agustus 2026: Tim Keamanan Berbasis Masyarakat PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) menyosialisasikan bahaya karhutla kepada warga Kelurahan Lawe-Lawe, sekitar 9 km dari Terminal Lawe-Lawe.
  • 📍 Tarakan Timur, Kalimantan Utara: PT Pertamina EP Tarakan bersama BPBD Provinsi dan Kota Tarakan memberikan pelatihan dan sosialisasi kepada relawan bencana agar lebih siap merespons sejak dini.

Tujuannya jelas: meningkatkan kesiapsiagaan seluruh lapisan masyarakat menghadapi potensi kebakaran, terutama saat cuaca memperbesar risiko.

Cuaca Panas & Lahan Gambut Jadi Tantangan Tersendiri

Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, menjelaskan bahwa kondisi cuaca memperberat penanganan: suhu siang mencapai 34–36°C, mempercepat kekeringan vegetasi dan penyebaran api — terutama di kawasan lahan gambut.

“Tantangannya bukan hanya memadamkan api, tetapi juga mencegahnya kembali menyala. Di lahan gambut, api bisa bertahan di bawah permukaan tanah dan muncul lagi jika pembasahan belum tuntas,” jelas Dony.

Karena itu, kolaborasi lintas sektor — pemerintah daerah, aparat keamanan, pemadam, relawan, hingga warga — menjadi kunci agar kebakaran tidak berulang.

Jaga Operasi Migas Demi Ketahanan Energi Nasional

Penanganan karhutla ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan operasi hulu migas di Kalimantan. PHI menekankan bahwa kerja sama semua pihak menciptakan keseimbangan tiga hal sekaligus: keselamatan jiwa, perlindungan lingkungan, dan kelangsungan pasokan energi bagi masyarakat.

“Langkah ini sejalan dengan komitmen kami mendukung keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi demi ketersediaan serta ketahanan energi Indonesia,” pungkas Dony.

PHI — bagian dari Subholding Upstream Pertamina yang mengelola operasi di Regional 3 Kalimantan — bersama SKK Migas juga terus menjalankan program TJSL di bidang lingkungan, infrastruktur, dan tanggap bencana sebagai wujud penerapan prinsip ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola).