PANDEGLANG — Puncak gelaran Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) PBSI Banten 2026 yang seharusnya menjadi panggung pembuktian bakat-bakat muda bulu tangkis Banten berubah menjadi kekecewaan mendalam. Insiden mati lampu secara mendadak melumpuhkan jalannya pertandingan final yang sedang berlangsung panas di GOR Graha Pancasila, Sabtu (24/10/2026).
Insiden ini terjadi persis ketika para atlet sedang berjuang di titik krusial laga pamungkas. Atmosfer ketegangan perebutan gelar juara seketika buyar, berganti riuh kebingungan dan kekecewaan dari tribun penonton maupun official tim yang memadati arena.
“Ini sangat amatir dan tidak profesional. Para pemain sudah mencapai taraf fokus dan adrenaline tertinggi untuk laga final, lalu mendadak mati lampu. Kesiapan panitia dan pengelola venue patut dipertanyakan,” celetuk salah satu pelatih tim kabupaten/kota yang enggan disebutkan namanya.
Kekecewaan tidak hanya datang dari pinggir lapangan. Para pemain yang telah menembus partai puncak harus menerima kenyataan pahit bahwa mental dan ritme permainan mereka terganggu akibat kendala teknis mendasar yang mestinya bisa diantisipasi sejak awal.
GOR Graha Pancasila yang ditunjuk sebagai arena utama ajang bergengsi tingkat provinsi ini dinilai gagap mengantisipasi skenario darurat. Meski kejadian tersebut tak berlangsung lama.
Ketiadaan atau keterlambatan fungsi sistem daya cadangan (generator set/genset) yang memadai saat laga penting memperlihatkan lemahnya standar penyelenggaraan turnamen resmi di bawah naungan PBSI Banten.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak panitia penyelenggara terkait insiden yang merusak citra pembinaan olahraga di Banten tersebut.