SERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang melalui Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBPPPA), Dinas Sosial (Dinsos), serta Tim Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) memberikan bantuan dan pendampingan kepada seorang perempuan berusia 17 tahun yang menjadi korban kekerasan seksual di Desa Cakung, Kampung Jati Gede, Kecamatan Binuang, Selasa 6/10/2026.
Pendampingan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan sejumlah unsur, mulai dari pemerintah kecamatan dan desa, Unit Pelaksana Teknis (UPT) PPA, Dinsos, Puskesmas hingga Satgas PPA.
Pemkab Serang memastikan penanganan korban tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga pemulihan psikologis, kesehatan, kebutuhan dasar, serta pendampingan selama proses hukum berlangsung.
Kepala DKBPPPA Kabupaten Serang, Haerofiatna, mengatakan keberanian masyarakat untuk melaporkan atau speak up menjadi langkah penting dalam mengungkap dan menangani kasus kekerasan seksual.
“Awal yang kami butuhkan adalah speak up. Ini sudah ada kemajuan di Kabupaten Serang. Dengan adanya kasus yang muncul, berarti masyarakat sudah sadar tentang bahayanya pelecehan dan kekerasan seksual,” ujar Haerofiatna.
Ia mengapresiasi respons cepat Kecamatan Binuang yang langsung melakukan koordinasi dan melaporkan kasus tersebut untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Sejak Desember kejadian ini muncul, langsung speak up Pak Camat dan tim ke bawah, dan kami menindaklanjuti. Apalagi Satgas yang sat-set turun ke lapangan, sehingga mudah dikoordinasikan dan dikomunikasikan, sehingga korban bisa terlayani dengan baik,” katanya.
Haerofiatna menegaskan, pemulihan psikologis menjadi salah satu prioritas dalam penanganan korban. Korban telah mendapatkan pendampingan, termasuk trauma healing, serta penanganan kesehatan.
“Apapun yang terjadi pada korban, kita obati dulu traumanya, bukan aspek hukum dulu. Karena mental nomor satu, kedua kesehatannya, baru aspek hukumnya kita kawal bersama,” tegasnya.
Selain pendampingan, bantuan kebutuhan dasar juga diberikan secara bertahap melalui kolaborasi lintas sektor. Dukungan tersebut berasal dari DKBPPPA, Dinsos, Puskesmas, Baznas, pemerintah kecamatan, Satgas PPA dan sejumlah pihak lainnya.
“Alhamdulillah bantuan itu semua dari dinas, salah satunya dari Puskesmas juga membantu. Kemudian dari Baznas, apalagi Dinsos sudah kewajiban. Dinas KB juga berkewajiban, Pak Camat juga sudah membantu, susu dan sebagainya untuk kesehatannya,” tuturnya.
Menurut Haerofiatna, bantuan diberikan secara bertahap sesuai kebutuhan korban, sehingga pemenuhan kebutuhan dapat terus dipantau.
“Bantuan ini bukan secara dadakan, tapi stimulan. Pertama bantuan yang turun dari UPT PPA dulu, kemudian stimulan yang lain, seperti makanan yang bergizi, kesehatan dan sebagainya turun bertahap, tidak langsung sekaligus,” jelasnya.
Ia menambahkan, pola tersebut dilakukan agar bantuan benar-benar menyesuaikan kebutuhan korban dalam proses pemulihan.
“Kasihan kalau dikasih makanan sekarang, kenyang sekarang, nanti ke depannya seperti apa. Jadi stimulan ini bertahap. Apa yang dibutuhkan dari korban, itu kita penuhi bertahap,” katanya.
Sementara itu, Zubaedah, kakak kandung korban, menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Serang dan seluruh pihak yang telah memberikan perhatian serta bantuan kepada keluarganya.
Menurutnya, bantuan yang diterima antara lain susu, telur, beras, minyak dan bantuan uang sekitar Rp1 juta.
“Alhamdulillah merasa terbantu dan mengucapkan terima kasih juga kepada semuanya yang membantu dan terlibat,” ujar Zubaedah.
Ia berharap kondisi adiknya terus membaik, proses persalinan berjalan lancar, dan bayi yang dikandungnya dalam keadaan sehat.
“Harapan saya supaya adik saya sehat, lancar persalinannya dan bayinya juga sehat. Terus pelakunya cepat dihukum,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Ketua Satgas PPA Tifa Hensifa Hanum Najib, Kabid PPA Melly Siltina, Kepala UPT PPA Kabupaten Serang Irma Iryuningsih, pelaksana UPT PPA Rita Agustini, perwakilan Dinsos Fariz, Camat Binuang M. Abror, Kepala Desa Cakung Arsawi, serta Kepala Puskesmas Binuang dr. Elizabeth Sihotang.