Ratu Rachmatuzakiyah menambahkan, program bantuan perbaikan rumah tidak layak huni harus diprioritaskan bagi kelompok masyarakat rentan, seperti lansia kurang mampu, penyandang disabilitas, serta kepala keluarga perempuan yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Serang memastikan korban yang masih menjalani perawatan akan tetap mendapatkan penanganan medis.
“Untuk pengobatan korban saat ini masih menggunakan BPJS dari perusahaan tempat almarhumah bekerja, yaitu PT Nikomas. Jika nanti sudah tidak aktif, maka pemerintah kabupaten akan menanggungnya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Serang Okeu Oktaviana mengatakan pihaknya telah melakukan asesmen terhadap bangunan rumah yang roboh tersebut.
“Hasil asesmen menunjukkan rumah ini merupakan bangunan lama dengan struktur yang sudah tidak layak. Batanya bata mentah dan perekatnya dari tanah liat. Dari luar memang terlihat bagus, tetapi secara struktur sudah sangat rapuh,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Serang berencana membangun kembali rumah tersebut melalui program bantuan rumah tidak layak huni.
“Nanti penanganannya akan kita bangun kembali. Kemungkinan tipenya antara tipe 28 sampai tipe 36 dengan perkiraan anggaran sekitar Rp50 juta,” katanya.
Ia menambahkan, selama ini pendataan RTLH lebih banyak berdasarkan kondisi visual dari luar bangunan. Ke depan, pihaknya akan melakukan asesmen lebih mendalam, terutama terhadap rumah-rumah tua di sejumlah wilayah seperti Ciruas, Kragilan, dan Lebakwangi yang banyak memiliki bangunan lama.
Dalam peristiwa tersebut, seorang warga bernama Umayah (46) meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan rumahnya pada Kamis malam (5/3/2026) sekitar pukul 23.30 WIB. Sementara putranya, Uktira (17) mengalami luka-luka dan saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Rumah tersebut diduga roboh akibat kondisi bangunan yang sudah tua dan rapuh, yang diperparah oleh hujan deras pada malam kejadian.
“Rumahnya memang bangunan lama. Struktur temboknya dari bata lama dan bagian penyangga cornya masih menggunakan kayu yang sudah puluhan tahun sehingga mengalami pelapukan. Ditambah hujan deras, akhirnya rumah itu roboh,” ujar salah satu warga.
Pemerintah daerah berharap peristiwa ini menjadi perhatian bersama agar kondisi rumah warga dapat lebih diperhatikan sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang.