Jakarta — Pergantian pemimpin Bank Indonesia saja tidak akan mampu memperkuat nilai tukar rupiah dalam waktu dekat. Ekonom senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, bahkan menilai tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih akan bertahan hingga lima tahun ke depan.

 
📉 Rupiah Sulit Menguat, Bukan Sekadar Soal Kebijakan BI

“Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah,” ujar Didik secara tegas.

Menurutnya, persoalan nilai tukar jauh lebih kompleks daripada sekadar kebijakan moneter.

Ada akar masalah struktural yang melibatkan sektor riil, pola ekonomi domestik, hingga ketergantungan terhadap impor.

“Pasar domestik yang besar tidak menjamin ekonomi menjadi kuat — setidaknya dilihat dari nilai tukar mata uangnya.” — Prof. Didik J. Rachbini

Pertumbuhan ekonomi yang terlalu bertumpu pada konsumsi memang memperbesar PDB, tetapi sebagian besar hanya memutar uang rupiah di dalam negeri — tidak menambah devisa.

Justru ketika produksi sangat bergantung bahan baku impor, pertumbuhan itu malah memperbesar permintaan dolar AS.

🏦 Suku Bunga Bukan Obat Segala Masalah

BI saat ini berada dalam dilema:

  • Naikkan suku bunga → rupiah bisa menarik modal asing, tapi biaya pinjaman dunia usaha, rumah, dan investasi makin mahal
  • Turunkan suku bunga → ekonomi bergerak lebih lancar, tapi aset rupiah makin kurang menarik dibanding aset dolar

“Bank sentral yang hanya mengandalkan instrumen suku bunga tidak akan pernah membuat nilai tukar menjadi lebih kuat.” — Prof. Didik

Artinya, beban menjaga rupiah tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada BI. Perlu perubahan dari sisi yang lebih luas.

🧩 Faktor Struktural yang Melemahkan Rupiah

Ada sejumlah masalah mendasar yang membuat rupiah rentan melemah — bahkan tanpa menunggu krisis ekonomi:

Faktor Penjelasan
⚖️ Kepastian hukum & korupsi Membuat investor ragu masuk, memperlambat aliran devisa

📦 Ketergantungan impor Produksi domestik masih rakus bahan baku dari luar, terus memborong dolar

📉 Ekspor masih bergantung komoditas Batu bara, sawit, nikel — harganya naik turun di pasar global, pendapatan devisa tidak stabil

💵 Cadangan devisa terbatas Sekitar US$145,3 miliar (Juli 2026) — terlalu kecil untuk ukuran ekonomi Indonesia, dibanding Singapura US$426,2 miliar atau Thailand US$279,2 miliar

🌐 Persepsi risiko investasi Biaya transaksi tinggi, prosedur berbelit — investor punya banyak pilihan negara lain

“Nilai tukar rupiah sangat rentan — rupiah bisa melemah dengan sendirinya tanpa perlu menunggu krisis.” — Prof. Didik

🧭 Solusi: Ekonomi Harus Berubah Arah

Didik menekankan bahwa jalan keluar tidak ada di meja BI saja. Indonesia perlu beralih dari ekonomi yang berpusat ke dalam negeri menjadi berorientasi ke luar:

✅ Perkuat ekspor produk bernilai tambah, bukan sekadar bahan mentah
✅ Ciptakan lebih banyak lapisan usaha yang menghasilkan devisa — pariwisata, jasa, bisnis internasional
✅ Perbaiki iklim investasi, kepastian hukum, dan tekan biaya ekonomi yang tinggi
✅ Kurangi ketergantungan impor bahan baku agar pertumbuhan tidak terus menelan dolar

📌 Kesimpulan

“Berdasarkan analisis menyeluruh, dalam lima tahun ke depan BI diperkirakan akan kesulitan menstabilkan rupiah.

Pergantian pemimpin tidak akan mengubah akar masalahnya. Yang dibutuhkan adalah perubahan struktural — agar ekonomi Indonesia tidak hanya besar di dalam negeri, tapi juga kuat menghasilkan devisa dari luar.” — Prof. Didik J. Rachbini

Intinya: rupiah tidak akan menguat hanya dengan kebijakan moneter. Harus ada perubahan cara kita berproduksi, berdagang, dan menarik investasi — agar aliran devisa benar-benar membanjir masuk.