Jakarta— Kebijakan penurunan bunga kredit mikro dari di atas 20 persen menjadi hanya 8 persen mulai September 2026 lewat PerMenKo No.7 Tahun 2026 bukan sekadar soal “memotong biaya pinjaman”. Lebih dari itu, kebijakan ini sedang merangkai sebuah ekosistem ekonomi baru: sampah bernilai, transaksi digital, dan dana murah bekerja sama untuk menyejahterakan rumah tangga miskin.
Penurunan bunga itu tentu meringankan beban nasabah. Selama ini, sebagian besar pendapatan usaha mikro terserap untuk membayar bunga yang tinggi, sehingga tak ada sisa untuk menambah modal, memperluas usaha, atau menabung. Dengan bunga 8 persen, ruang bernapas para pelaku usaha akhirnya terbuka.
Tapi tantangannya besar: bagaimana menjaga bunga rendah ini tetap berjalan berkelanjutan — tanpa merugikan lembaga penyalur kredit sekaligus memastikan nasabah tetap mampu membayar?
🧩 DUA SISI PERSOALAN
Ada dua hal yang harus diselesaikan sekaligus: kemampuan bayar nasabah dan biaya dana lembaga.
Di satu sisi, penghasilan usaha mikro memang masih kecil. Di sisi lain, lembaga seperti PNM selama ini mengambil dana pinjaman dengan biaya 6–7 persen per tahun. Jika bunga jualan ke nasabah langsung dipotong jadi 8 persen tanpa perubahan lain, sistem bisa goyah.
Di sinilah gagasan cerdas hadir: gabungkan dengan ekonomi sirkular.
♻️ SAMPAH JADI SUMBER ANGSURAN
Caranya sederhana namun dahsyat: nasabah tidak hanya mengandalkan penghasilan dari toko atau ladangnya. Mereka juga mengumpulkan sampah yang masih bernilai jual — plastik, kardus, kaleng, aluminium, minyak jelantah, besi bekas — lalu menjualnya.
Hasil penjualan masuk ke rekening mereka lewat QRIS, uangnya otomatis tersedia untuk membantu membayar angsuran kredit saat jatuh tempo.
“Sampah yang tadinya dibuang begitu saja, kini berubah jadi uang tambahan yang memperkuat kemampuan membayar nasabah,” ujar Agus Santoso, Mantan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM.
Dengan cara ini, risiko gagal bayar turun, nasabah pun tidak lagi terbebani berat saat tanggal jatuh tempo tiba. Lingkungan pun ikut bersih.
💰 DANA MURAH MENJAGA KELANGSUNGAN
Sementara itu, agar lembaga penyalur juga bisa bernapas, pemerintah tidak perlu terus-menerus menyubsidi dari APBN. Ada jalan lain: memanfaatkan Dana Patriot Bond Danantara dengan biaya bunga hanya 2 persen per tahun.
Dengan biaya dana yang murah ini, PNM bisa menyalurkan kredit 8 persen secara sehat dan berkelanjutan — bukan karena dibayar pemerintah, tapi karena memang struktur biayanya sudah efisien.
🤝 SATU RANTAI YANG SALING MENGUATKAN
Jadi begitulah skemanya:
- Sampah dikumpulkan → dijual → jadi uang tambahan
- Uang sampah masuk lewat QRIS → memperkuat arus kas rumah tangga
- Dana murah menekan biaya lembaga → bunga rendah 8% tetap sehat
- Angsuran lancar → usaha berkembang → naik kelas
📢 BUKAN SEKADAR TURUNKAN BUNGA
“Ini bukan sekadar kebijakan menurunkan bunga kredit,” tegas Agus Santoso. “Kita sedang membangun model baru: dari sampah jadi nilai ekonomi, dari nilai ekonomi jadi kemampuan bayar, dari dana murah jadi bunga rendah yang bertahan lama. Ekonomi rakyat tumbuh dari hal-hal yang sederhana — bahkan dari sampah sekalipun.”
Kini tantangannya tinggal satu: memastikan semua bagian — regulasi, sistem digital, tata kelola dana, dan manajemen risiko — berjalan selaras di lapangan. Jika berhasil, kredit 8 persen bukan sekadar angka di atas kertas, tapi fondasi ekonomi baru yang tumbuh dari bawah.
Ditulis berdasarkan tulisan Agus Santoso — Mantan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM