“Artinya, itu yang saya rasa juga harus kita contoh, karena kita hidup harus seperti itu, harus ada kejujuran, kesederhanaan, dan ketaatan. Ketaatan itu kepada Allah, kepada pemerintah, dan lainnya,” sambungnya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi Seba Baduy sebagai bagian dari kekayaan budaya Banten.
“Semoga hubungan yang baik ini terus bisa kita lestarikan, dan ini merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki Provinsi Banten. Kita harus jaga dan kita hormati itu semua,” tandasnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Baduy, Jaro 12, Saidi Putra, menjelaskan Seba Baduy pada masa lalu dikenal dengan istilah tongtrong, yang bermakna agar pemerintah tidak melupakan masyarakat.
Menurut dia, tradisi tersebut menjadi simbol harapan agar masyarakat hidup tenteram, negara kuat, dan agama tetap teguh.
Ia juga menyampaikan optimisme terhadap kepemimpinan Bupati Serang ke depan serta berharap aturan dan tradisi yang telah diwariskan tetap dijaga dan tidak dihilangkan.