Dampak Pembangunan Mulai Dirasakan Langsung oleh Petani
Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Kabupaten Lebak, Abeng (60), mengaku konflik perebutan air yang selama puluhan tahun menjadi persoalan utama petani kini mulai berkurang. Sejak dekade 1980-an, setiap memasuki musim tanam kedua, petani kerap berselisih karena berebut pasokan air dari Bendung Cikoncang Ketapang.
“Kalau dulu setiap musim tanam kedua selalu ribut soal air. Yang tidak kebagian air marah, yang kebagian juga khawatir. Itu sudah terjadi sejak tahun 1980-an,” ujarnya saat ditemui di Desa Bolang, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak.
Menurut Abeng, perubahan tidak hanya terjadi pada ketersediaan air. Keberadaan jalan inspeksi yang dibangun di sepanjang saluran irigasi juga memangkas biaya angkut hasil panen secara signifikan.
“Dulu jalannya becek dan rusak. Ongkos angkut gabah sekitar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per karung, bahkan saat musim hujan bisa mencapai Rp40 ribu. Sekarang turun menjadi sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per karung. Ongkos produksi jauh lebih ringan,” katanya.
Ia menambahkan, petani kini juga lebih mudah memperoleh pupuk maupun solar bersubsidi untuk mendukung operasional alat mesin pertanian.
Meski demikian, Abeng berharap rehabilitasi jaringan irigasi terus dilanjutkan agar seluruh wilayah layanan memperoleh manfaat yang sama.
“Selama sekitar 30 tahun irigasi ini terbengkalai. Baru sekarang benar-benar diperhatikan pemerintah. Mudah-mudahan pembangunan ini terus dilanjutkan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Aman (62), petani asal Desa Bolang. Ia mengatakan, sebelum jaringan irigasi diperbaiki, sebagian petani bahkan kesulitan melakukan satu kali masa tanam dalam setahun akibat minimnya pasokan air.
Kini, kondisi tersebut berubah. Dengan jaringan irigasi yang lebih baik, petani mampu menanam padi dua kali dalam setahun, bahkan di sejumlah lokasi telah mencapai tiga kali musim tanam.
“Alhamdulillah sekarang bisa dua kali tanam, bahkan ada yang tiga kali. Kemarin saya panen sekitar 27 ton dari lahan enam hektare, dan masih ada empat hektare lagi yang akan dipanen,” katanya.
Menurut Aman, keberadaan jalan inspeksi juga mempercepat distribusi hasil panen dari sawah menuju rumah maupun tempat penggilingan. Biaya angkut yang sebelumnya mencapai Rp25 ribu hingga Rp40 ribu per karung saat musim hujan kini turun menjadi sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per karung.
Ia juga mengaku tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh pupuk maupun solar bersubsidi untuk kebutuhan alat mesin pertanian.
“Dulu kami susah air, pupuk juga susah, jalan rusak. Sekarang irigasi sudah bagus, jalan juga bagus. Kami benar-benar merasakan manfaatnya. Terima kasih kepada Presiden dan Bapak Gubernur Andra Soni, ” ujar Aman. (Adv)