SERANG — Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah meninjau langsung lokasi banjir di Kecamatan Carenang, Rabu (28/1/2026) sore. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap warga terdampak banjir di tiga desa, yakni Desa Mekarsari, Pamanuk, dan Carenang.

Bupati yang akrab disapa Ratu Zakiyah tiba di lokasi sekitar pukul 17.30 WIB dengan mengenakan kemeja putih dan celana biru. Ia didampingi Asisten Daerah (Asda) II Febriyanto, Kepala DPUPR Kabupaten Serang Mochammad Ronny Natadipraja, Kepala Diskoumperindag Adang Rahmat, serta Camat Carenang Imron.

Setibanya di lokasi, Ratu Zakiyah langsung menuju tenda pengungsian untuk menyapa dan berdialog dengan warga, khususnya kaum ibu. Ia menanyakan kondisi kesehatan serta ketersediaan makanan, sekaligus memberikan semangat dan menyerahkan bantuan sembako kepada para pengungsi.

Ratu Zakiyah juga meninjau sejumlah tenda pengungsian yang didirikan warga secara mandiri. Ia tampak terkejut melihat kondisi rumah warga yang terendam banjir hingga mencapai ketinggian sekitar 2 hingga 4 meter, bahkan menenggelamkan sebagian besar bangunan rumah.

“Hari ini saya meninjau lokasi pengungsian di Desa Mekarsari, Kecamatan Carenang. Tadi kita lihat, dampak banjir ini sangat besar, ada rumah warga yang terendam hingga 2 sampai 2,5 meter. Tentu secara pribadi dan atas nama pemerintah daerah kami sangat prihatin,” ujar Ratu Zakiyah.

Ia memastikan pemerintah daerah akan menjamin kebutuhan dasar warga terdampak, khususnya ketersediaan makanan di lokasi pengungsian.

“Yang terpenting, tidak boleh ada warga yang kekurangan makanan, apalagi di sini banyak lansia, ibu hamil, dan balita. Kesehatan warga harus benar-benar dijaga,” tegasnya.

Terkait penyebab banjir, Ratu Zakiyah menyebutkan bahwa luapan Sungai Cidurian menjadi faktor utama. Ia menilai perlu adanya langkah konkret jangka panjang, termasuk pembangunan tanggul.

“Saya mendapat informasi bahwa di wilayah lain Sungai Cidurian sudah memiliki tanggul, sementara di sini belum. Ke depan kami akan berkoordinasi dengan BBWSC3 agar ada pembangunan tanggul di Sungai Cidurian,” jelasnya.

Menurutnya, dampak luapan sungai tersebut sangat besar karena hampir seluruh warga di beberapa kampung terpaksa mengungsi akibat rumah mereka terendam total.

“Kami berharap ada tindakan konkret, khususnya dari BBWSC3 Banten di bawah Kementerian PUPR. Insya Allah kami akan terus berkomunikasi untuk menindaklanjuti hal ini,” ujarnya.

Ratu Zakiyah juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan banjir, mulai dari TNI, Polri, camat, lurah, RT/RW, hingga tenaga kesehatan.

Ia pun meminta maaf kepada masyarakat karena pemerintah daerah belum dapat menangani persoalan banjir secara cepat dan menyeluruh.

“Kondisinya memang masih seperti ini. Kita berdoa bersama agar hujan segera reda dan banjir cepat surut,” tuturnya.

Selain itu, Bupati mengimbau warga untuk tetap menjaga kesehatan selama berada di pengungsian dan selalu waspada terhadap potensi banjir susulan. Pemerintah daerah, kata dia, telah menyiapkan dapur umum serta fasilitas toilet portabel bagi para pengungsi.

Usai meninjau tenda pengungsian, Ratu Zakiyah juga memastikan langsung operasional dapur umum guna menjamin kebutuhan pangan warga terpenuhi.

Sebagai informasi, banjir akibat meluapnya Sungai Cidurian terjadi sejak Senin (26/1/2026) dan merendam sejumlah kampung di tiga desa. Di Desa Pamanuk, banjir merendam Kampung Biongbong Ciguha, Biongbong Pintu, dan Kampung Kedokan Porang. Di Desa Carenang, banjir melanda Kampung Ciguha, Kedung Melati, dan Kampung Carenang. Sementara di Desa Mekarsari, banjir merendam Kampung Selawe dan Kampung Bojong Warna, dengan Kampung Selawe menjadi wilayah terdampak paling parah.