Menurutnya, dampak luapan sungai tersebut sangat besar karena hampir seluruh warga di beberapa kampung terpaksa mengungsi akibat rumah mereka terendam total.

“Kami berharap ada tindakan konkret, khususnya dari BBWSC3 Banten di bawah Kementerian PUPR. Insya Allah kami akan terus berkomunikasi untuk menindaklanjuti hal ini,” ujarnya.

Ratu Zakiyah juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan banjir, mulai dari TNI, Polri, camat, lurah, RT/RW, hingga tenaga kesehatan.

Ia pun meminta maaf kepada masyarakat karena pemerintah daerah belum dapat menangani persoalan banjir secara cepat dan menyeluruh.

“Kondisinya memang masih seperti ini. Kita berdoa bersama agar hujan segera reda dan banjir cepat surut,” tuturnya.

Selain itu, Bupati mengimbau warga untuk tetap menjaga kesehatan selama berada di pengungsian dan selalu waspada terhadap potensi banjir susulan. Pemerintah daerah, kata dia, telah menyiapkan dapur umum serta fasilitas toilet portabel bagi para pengungsi.

Usai meninjau tenda pengungsian, Ratu Zakiyah juga memastikan langsung operasional dapur umum guna menjamin kebutuhan pangan warga terpenuhi.

Sebagai informasi, banjir akibat meluapnya Sungai Cidurian terjadi sejak Senin (26/1/2026) dan merendam sejumlah kampung di tiga desa. Di Desa Pamanuk, banjir merendam Kampung Biongbong Ciguha, Biongbong Pintu, dan Kampung Kedokan Porang. Di Desa Carenang, banjir melanda Kampung Ciguha, Kedung Melati, dan Kampung Carenang. Sementara di Desa Mekarsari, banjir merendam Kampung Selawe dan Kampung Bojong Warna, dengan Kampung Selawe menjadi wilayah terdampak paling parah.